Kediri - Banyak yang mengira bahwa menempuh pendidikan di kampus swasta identik dengan gaya hidup mewah dan biaya tinggi. Namun, menurut Arnis anggapan tersebut sebenarnya hanyalah mitos
Arnis berpendapat bahwa gaya hidup yang mewah tergantung bagaimana seseorang bisa lebih mengontrol kondisi sesuai keuangan yang ada. Walaupun tidak kuliah di kampus swasta.
“Kalau misal kita ikutan eh dari tren yang terus menerus nih. Itu kan pasti kerasa sama mahale. Tapi kalau misal bisa kontrol diri nah kuliah di mana pun itu juga bisa tetap hemat. Kalau menurutku gitu,” ujarnya.
Tantangan terbesar yang sering dihadapi mahasiswa adalah godaan gaya hidup, seperti nongkrong di kafe agar tidak ketinggalan tren. Tanpa manajemen uang yang baik, mahasiswa cenderung boros di awal bulan dan menggunakan mode bertahan hidup saat memasuki akhir bulan.
Untuk mengatasi kejadian itu, Arnis memberikan beberapa cara mengatur keuangan, seperti mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran harian. Dengan pencatatan, mahasiswa dapat mengetahui secara pasti ke mana arah uang itu mengalir mengalir
“Bikin Batasan sih, misalnya untuk makan ataupun membatasi juga untuk nongkrong sama teman-teman. Mungkin bisa diatasi lagi dengan nongkrongnya di kos saja enggak sih. Biar lebih hemat,” ujarnya.
Selanjutnya Arnis menjelaskan tentang kesalahan finansial paling umum yang sering dilakukan mahasiswa adalah sifat impulsif. Melihat diskon sedikit atau makanan yang sedang tren, mahasiswa sering kali langsung membeli tanpa perencanaan
“Mungkin dari eh mulai disiplin untuk pengeluaran ya terus bikin batas dari pengeluarannya itu sendiri dan biasain nunda untuk beli sesuatu. Kalau memang sekiranya enggak penting ya sudah enggak usah dibeli. Tunggu kalau memang sudah waktunya untuk beli,” ujar Arnis dikutip Senin (27/4/2026).
Pada akhirnya, kunci agar masa kuliah tetap enjoy adalah dengan menikmati masa studi, namun tetap sadar akan kondisi keuangan pribadi

1 Komentar
keren
BalasHapus